Jumat, 06 November 2015

You're my Inspiration

Tumpukan kain bahan berserakan disana sini, tidak biasanya ruangan kecil itu terasa sesak dan meski banyak fentilasi udara yang bisa membuat udara bersih masuk dan mengganti karbon-karbon dioksida,
“Umi lagi sibuk banget ya?” suara lirih terdengar samar beradu dengan suara mesin yang membuat Septi menghentikan goesan mesin jahitnya.
“eh Abi... udah pulang bi?, ini tadi Ibu Imas menyuruh Umi menggarap kainnya yang akan dipakai besok bi” tanggap Septi beranjak meninggalkan aktivitasnya dan meraih tangan suaminya seperti yang biasa ia lakukan.
“Umi, Abi hari ini ditugasknan mengikuti workshop pendidikan dari Sekolah, yang diutus ada dua orang, Abi dan Bu Sely”. Suami Septi atau yang biasa disapa Miftah menjelaskan maksud kepulangannya sekalian izin.
“kok dadakan bi, memangnya informasi workshopnya kapan sampainya?” Septi sedikit keberatan, karena rencana dia buat memasak masakan kesukaan Miftah akan ditunda.
Mereka berjalan menuju ruang tengah yang telah sebelumnya dirapihkan dan disiapkan sedikit cemilan ringan untuk sekeluarga
“iya Umi, tadinya Pak Jo dan Bu Sely yang akan berangkat karena Abi harus mengurus administrasi siswa baru, akan tetapi Pak Jo mendadak sakit dan harus digantikan dengan Abi, sedangkan kerjaan Abi akan dikerjakan sama pihak TU.” Sambil meraih toples keripik singkong, Miftah memberikan penjelasan dengan ramah kepada istrinya”
“Abi mau naik umum atau bawa kendaraan sendiri?, terus ibu Sely kesananya bagimana?” nada kekawatiran muncul ditengah-tengah pembicaraan mereka.
“Umi jangan kawatir, ada Bu Lela juga kok, beliau mau ikut nebeng sampai rumah saudaranya yang disebelah tempat workshop, terus pulangnya juga mau bareng”. Miftah sangat paham maksud pertanyaan istrinya, sehingga ia segera mencoba menenangkannya.
Kekawatiran Septi sedikit padam, rencana masak-masaknya mungkin akan ditunda untuk sementara, meski sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin makan bersama sekeluarga besar sebagai rasa syukur atas rizki lebih yang diterimanya kemarin lusa.
“Abi berangkatnya sekarang?, Abi nggak akan makan dirumah? Rencananya, Umi mau masak bandeng asap, tapi nggak apa-apa mungkin bisa dibesokin lagi ikannya, yasudah Abi berangkatnya hati-hati ya, nanti kalau sudah sampe segera kabari Umi.” Septi mencoba menyembunyikan sedikit kekecewaannya dan tetap memberikan kesempatan Abi makan cemilannya dengan lahap.
Iya mi, Abi mau wudhu dulu terus berangkat, Abi minta maaf ya mi, nanti sampaikan ke anak-anak kalau Abi belum nyampe rumah jam 19:00, sambil menoleh jam dinding Miftah berharap agar semua keluarganya memahami tugasnya.
Miftah beranjak dari ruang tengah menuju ke belakang untuk berwudhu, sementara Septi menyiapkan baju untuk suaminya kenakan saat mengikuti workshop, ditatanya dengan rapih tepat dipojok ranjang sehingga suaminya akan dengan mudah mengambilnya dan mengerti maksudnya. Ia kemudian membungkuskan nasi dan lauk secukupnya disebuah tupperware yang biasa digunakan suaminya, bahkan tak tertinggal juga diraihnya botol aqua bersegel dari kulkas. Dikemasnya semua kebutuhan suaminya itu dalam tas yang biasa dibawa oleh suaminya.
“Umi sedang apa? Menyiapkan keperluan Abi ya, nanti.......” kata-kata suaminya tidak berlanjut. Disusul lagi dengan kalimat yang lainnya. “makasih ya Umi, Abi mau siap-siap dulu” terang Miftah sambil melaju kekamar mereka, sedangkan Septi masih sibuk mempersiapkan kebutuhan suaminya dan menyiapkannya di meja depan.
Dan benar saja, Miftah segera mengganti bajunya dengan yang sudah disiapkan oleh istrinya dan menggantung baju yang telah dipakainya dilemari.
Wajah itu semakin lama semakin kelihatan lelahnya, namun hati itu semakin lama semakin terlihat cantiknya, semakin cantik semakin menyejukkan. Beberapa kalimat yang menghiasi kepalanya saat itu.
Kecupan sayang dan hormat mengantarkan Miftah pada perjalannnya menuju tempat wokshop, dua wanita, usia sebaya dengan Mifta dan satunya lagi, bu Lela yang hampir mendekati kepala empat. Menjadi teman berdiskusi bagi Mifta tentang keadaan sekolah yang menjadi tempat mereka berbagi manfaat dan menjemput rejeki.
Septi bergegas melanjutkan aktivitas menjahitnya diruangan yang sedikit sumpek tadi, ia mulai memunguti bahan-bahan yang sudah tidak akan digunakan lagi dalam sebuah tas rajut ukuran besar karya tangannya, kali ini ia mencoba merapihkan kembali ruangan itu sebelum menggoes lagi pedal mesin jahitnya, meskipun sudah ada mesin portable namun Septi tidak mau begitu saja meninggalkan mesin tuanya, yang dirasanya masih sangat berfungsi dengan baik.
Dari balik jendela kaca yang ada didepannya, ia melihat sesosok ibu yang seusia dengannya, suara tangisan anak berusia 10 tahun, beradu dengan suaranya yang sedikit nyaring.
Sesosok tangisan terlintas dalam benaknya, kali ini bukan tangisan anak kecil namun tangisan seorang ibu yang ketakutan.
Menjadi sosok seorang ibu bukanlah suatu hal yang mudah, suatu hal yang biasa namun tidak bisa disepelekan perannya.
Usia pernikahan yang telah menginjak lima tahun telah memberikan Septi banyak kesempatan untuk ia mengamalkan ilmu-ilmu yang diperolehnya, baik ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah hingga perkuliahan ataupun dari pesantren singkat yang ia lalui selama kurang lebih 1 tahun.
Suara anak kecil yang merengek-rengek itu tidak mudah untuk ditaklukkan hanya dengan kemarahan. Karena dampaknya bukan pada jera melainkan reda sesaat.
“dede, dede kan udah punya yang mainan kayak gitu, masak pengen beli lagi, nanti sayang yang kemarin, kan masih bisa dipake, nanti mainannya yang kemarin marah lo sama dede, Alloh kan juga ngga suka kalau dedenya banyak mainnya, nanti nggak bisa ngaji.”
Suara tangisan Unais, anak septi yang baru berusia 4 tahun itu sedikit menunjukan respon paham terhadap yang dijelaskan Uminya. “Umi pengen lo kasih dede mainan itu, tapi Umi lebih nggak pengen kalau dede Unais nanti nggak disayang sama Alloh, eh iiiyaaa.. liat juga nih Alloh sayang kan sama Unais, Umi nggak diingetin bawa dompet sayang, artinya Unais nggak diizinin beli mainan sama Alloh” sambil menunjukan tasnya yang kosong, Septi mencoba memberi pengertian yang lebih mendalam kepada anaknya. Ketauhidan yang dimiliki Septi dan terus dipupuk olehnya, sedikit demi sedikit mulai ditanamkan olehnya sedari Unais kecil, bahkan dari bayi dengan berbagai cara yang disesuaikan dengan perkembangan Unais yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Akhirnya keduanya pulang dan mengakhiri percakapan itu dengan ia berterimakasih kepada anaknya yang sudah pandai memahami maksudnya.
“Abi, dede semakin hari semakin pinter, dia mulai paham dengan tauhid yang Umi tanamkan melalui kata-kata ketika dia merengek-rengek meminta mainan, masyaaAlloh bi, Umi terharu tadi Umi bersyukur kepada Alloh yang telah memudahkan pemahaman Unais untuk menerima kebaikan”. Septi membuka obrolan sebelum mereka memejamkan mata mengakhiri hari itu.
“masyaaAlloh, benarkah itu Umi, alhamdulillah, semoga nanti ia tumbuh menjadi pribadi yang bertauhid dan beryakinan yang kokoh kepada Alloh ya umi, terimakasih sudah mendidik anak kita dengan kesabaranmu dan keikhlasanmu yang lillah mi”.
Miftah semakin bangga dan semakin kagum pada istrinya, Miftah memang melihat anaknya tumbuh berbeda dari anak-anak yang lainnya disaat lingkungan mereka belum mengenal Alloh lebih dalam, karena mereka hanya menjadikan agama sebagai ritual sebagaimana kebanyakan orang, namun tidak sedikit juga yang mulai tersentuh tauhid dan banyak bertanya kepada keduanya setelah melihat dan bercermin dari rumah tangga Septi dan Miftah yang sangat damai dan penuh kasih sayang.
“Umi hanya melaksanakan apa yang Alloh perintahkan bi, Alloh menitipkan Unais untuk kita didik agar mengenalNya, Abi juga suami yang hebat yang terus mendukung Umi, dan menasehati Umi  agar selalu sabar menghadapi mereka, bahkan selalu memberi penawar ketika Umi mulai terlihat letih dengan aktivitas, juga sering mijitin Umi, kalau Umi kecapean ngejahit”. Septi dengan nada manjanya membalas pujian suaminya. Meskipun kehidupan rumah tangga mereka sudah tidak bisa dikatakan baru, namun suasana rumah itu selalu diliputi kasih sayang dan cinta kepada Alloh SWT yang membuat rumah tangga mereka terasa baru terus.
Alarm murottal al-quran yang diseting di Handphone Miftah membangunkan Septi dan segera duduk dan menengadahkan tangan memanjatkan do’a, kemudian seperti biasa ia membangunkan suaminya. Terkadang Miftah memang sengaja pura-pura masih merem karena menunggu dibangunkan padahal sebenarnya sudah bangun dan kadang sudah sholat malam lebih dulu. Lain halnya dengan Septi, dia belum bangun jika alarm belum berbunyi atau belum dibangunkan, yaitu sekitar pukul 03:00.
“haiyya ‘alashholaah, lalu Septi membacakan ayat 191-194 dari surah Al-Imran” Miftahpun membuka kedua matanya, mendengarkan bacaan istrinya, dan selalu mengucapkan terimakasih pada istrinya, kemudian keduanya beranjak ke kamar mandi dan berwudhu.”
“Abi, Umi boleh berpuasa sunah nggak hari ini?” Septi dengan lembut meminta izin pada suaminya. Kalau boleh Umi mau masak nasi dulu buat sahur, karena Umi lupa belum masak nasi semalem.
“boleh mi, Abi juga mau berpuasa hari ini” jawaban singkat dari Miftah sebelum ia memasuki kamar mandi.
“Abi, Abi masak nasi semalem? Kok udah ada nasinya ya.”
Sambil menongolkan kepalanya dari kamar mandi, Miftah memberi sedikit peringatan, “Umi, dedenya masih tidur, jangan keras-keras ya, nanti Umi yang repot” kembali Miftah
“euu. Maaf bi, abisnya Umi seneng, alhamdulillah”
“iya Abi sengaja masak biar Umi bisa langsung sholat.”
“Abi semalem mau makan ya terus nggak ada nasi, pasti tidurnya sambil nahan laper ya bi, maafin Umi ya bi, Umi kelupaan” nada bersalah keluar dari mulut Septi
“Abi semalem udah niat mau puasa mi, jadi Abi ngecek dulu ada nasinya buat sahur” Miftah mencoba mengusir rasa bersalah istrinya. Abi sudah selesai wudhunya, Umi buruan gih Abi tunggu di mushola”. berlalulah hari-hari yang selalu indah karena-Nya dan akan terus indah karena-Nya.
“Abi, Unais tadi maen sama teman-temannya pulang sore jam 17:30, jadi sholatnya telat”. Obrolan malam kembali dibuka oleh Septi mengadukan anak pertamanya.

“terus gmana mi, Umi nasehatin Unais nggak tadi? Umi nggak marah kan sama dia?” tanya Miftah penasaran apa yang terjadi
“nggak bi, Umi Cuma nasehatin aja tadi, Umi belum sampai hati kesana,”
“kasih dia kesempatan buat berpikir Umi, sampai tiga kali kalau Unais terus begitu Umi boleh marah dan memukul dia, tapi inget batasannya ya mi, besok Abi coba ngobrol sama dia, sekarang Umi tidur dulu ya, udah larut lo”
“Abi Umi masih bisa sabar kalau Unais bandel karena hal lain, bi...” obrolan kali ini terputus karena ternyata Miftah telah mendahului memejamkan matanya dan beristirahat dari segala aktivitasnya. “mungkin Abi kecapean seharian disekolah” Septi memandangi suaminya yang senantiasa mendampinginya hingga hari itu dan tidak pernah lupa untuk mendoakan suaminya sebelum akhirnya memejamkan mata.
“Unais, sini de, Unais tadi dari mana?,” Miftah memegang tangan anaknya setelah selesai melaksanakan sholat”
“Unais dari tempat Dino bi, tadi Unais pas pulang ketemu sama Ali terus diajak main dulu kerumahnya”. Unais menerangkan alasannya.
“Unais tau kan amalan apa yang paling baik dari keseharian kita? Coba sebutin ke Abi,”
“Sholat pada waktunya bi,”
“nah, Unais hari ini sholat asar jam berapa, biasanya unais sholatnya jam berapa?”
“jam setengah 6 bi, biasanya jam 3 atau set 4 bi, maaf ya bi,”
“lhoo kok minta maafny ake Abi?”
“karena Unais nggak mengikuti perintah Alloh,”
“nggak ngikutin perintah Alloh berarti minta maafnya harus ke siapa?”
“ke Alloh bi, tapi tadi Unais udah minta maaf kok bi ke Alloh, Unais mau berjanji nggak ngulangin lagi”
“anak pinter, nah kalau sudah janji gitu berarti nggak boleh diula...” Mifta menghentikan kalimatnya.. “ngiii” kalimat Miftah dilengkapi oleh Unais.
“Abi boleh nanya lagi sayang, boleh bi, tadi pas dari rumah Dino jam berapa ya?”
“jam 3 bi, Unais tadi mau pulang dulu mau sholat tapi dicegat sama Ali bi, terus pas main lupa” 
“Dino dholat nggak de?, Unais nanya nggak kalau dirumahnya ada mushola apa nggak?”
“Adalah bi, kan dino sama kaya kita, Islam ya bi namanya,  tapi Unais nggak pernah melihat temen-temen Unais sholat bi”
“ooh ada mushola jug aya kayak tempat kita ya de, jadi nanti kalau udah jam tiga, Unais izin ke air, wudhu terus numpang sholat disana ya nak, biar pas pulang udah sholat.”
Unais sedikit biongung menjelaskan kepada Abinya, bagi anak seusia itu, mungkin karena dia tidak pernah melihat orangtua Dino maupun Dino, temanya itu sholat sehingga dia merasa takut kalau sendiri, atau masih banyak alasan lagi yang membuatnya lebih nyamaan dan tenang jika melakukan sholat dirumahnya sendiri, meskipun bisa dibilang gerakan-gerakan sholat anak seusia Unais masih belum sempurna.
Terdengarlah suara adzan maghrib yang mengakhiri percakapan antara keduanya, sore itu Miftah sengaja meluangkan waktu untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh anaknya yang membuat perilakunya sedikit berubah.
“Abi, makasih ya Abi, Unais sekarang sudah mulai kembali ke kebiasaan baiknya, sholat tepat waktu, karena pulang mainnya tidak terlalu sore dan terkadang pas Umi tanya, katanya sudah sholat dirumah temannya, Rio, awalnya Umi ragu, tapi kemudian Umi tanyakan ke orang tua Rio katanya memang benar, malah Rio kadang mengikuti dibelakangnya.
“Alhamdulillah mi, kalau seperti itu, sekarang Abi udah tenang, semoga Alloh senantiasa menjaganya dari amalan sholatnya ya mi”. Kekawatiran sepasang suami istri itu kini mulai kandas, melahirkan kembali kepercayaan terhadap anaknya, dan semakin menambah keyakinan mereka akan pertolongan Alloh.
Tahun ke 4 Unais berada disekolah dasarnya, Unais telah tumbuh besar menjadi anak yang patuh dan rajin. Namun karena lingkungan temna-temannya yang umumnya anak sekarang dengan berbagai tingkah bandelnya dan mulai mencari banyak perhatian dari guru maupun teman-temannya. Diantara yang lainnya Unais masih bisa dikatakan anak yang unggul daripada yang lainnya.
“Unais, besok Umi/Abi Unais bisa datang ke sekolah tidak? Ibu kangen sama Umi kamu sayang, pengen ngobrol-ngobrol lagi, nanti sampaikan ya ke Umi Unais.” Seorang guru Unasi yang separuh baya menghampiri Unais dengan sengaja dan berharap Unais melakukan apa yang dimintanya.
“iya bu, tapi saya nggak nakal kan bu?” nanti Umi sedih kalau Umi dipanggil karena saya nakal”. Dengan polosnya Unais merespon permintaan gurunya
“Unais nggak usah kawatir ya, kan Umi sama Ibu berteman, jadi Ibu cuma pengen ngobrol aja sama Umi kamu, Unasi nggak nakal kok, malah Ibu mau ngasih tau ke Umi kalau Unais baik-baik saja disini.
“iya bu, Ibu saya main lagi ya”. Unais berpamitan dan beranjak menuju teman-temannya lagi
“Septi, aku kagum sama kamu, anak kamu begitu patuh, sopan dan rajin, bahkan ia selalu menasehati teman-temannya agar takut sama Alloh, bagaimana bisa kamu mengajarkan kepada anak seusia Unais hal-hal yang belum tentu dimengeri oleh orang dewasa?”. Ungkapan rasa kagum yang melegakan Septi yang sempat berpikir anaknya mendapat masalah di sekolahnya.
“astaghfirulloh, Sin, aku udah jantungan lo, dikira ada apa-apa sama anak aku, masyaaAlloh, aku juga sedikit heran dan bersyukur Sin, eh Ibu ya. Hehe.. bersyukur karena Alloh menjawab doa dan kepasrahanku Sin, aku hanya bisa berusaha dan berdoa, tapi yang lebih aku prioritaskan adalah doa, akumemohon agar Unais dididik langsung sama Alloh, karena aku tidak berkuasa apa-apa, aku tidak bisa apa-apa, yang sebenarnya mendidik bukanlah kita, tapi Alloh yang memberikan banyak kemudahan berpikir, kemudahan pemahaman, baik terkait agama maupun umum, berdoa agar disetiap usaha ku selalu ada pertolongan Alloh yang menggerakkan.” jawab Septi diselingi gaya bercandanya, jawaban yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Sintia
“masyaaAlloh, Sep, nggak nyangka kamu beneran sesholihah ini,” kekaguman Sintia yang sedikit membuat geli Septi
“eh eh eh, jangan sembarang memuji lo, nanti bisa-bisa aku semburin pasir lo, kaya hadits yang waktu itu tu, hehe” obrolan itu sedikit mencair
“oh jadi gitu ya cara mendidik anak te, serahkan ke Alloh ya, biar Alloh yang mendidik amanahNya itu dan menggerakkan usaha kita kesana”.
Dan tiba-tiba guru Unais tersebut mencetus sebelum sempat Septi menjawabnya
“tapi Sep, kamu perlu waspada juga, kan pasrah bukan berarti tidak memperhatikan kemungkinan terburuk kan?
“maksudnya gimana Sin” tukas Septi sedikit penasaran akan sarat maknanya
“gini nih, kalau aku perhatikan, Unais itu mainnya sama anak-anak yang lumayan bandel dan suka susah kalau disuruh sholat karena memang dirumah juga tidak dibimbing sholat sama kesdua orang tuanya. Maksud aku meskipun dia susah terpengaruhnya tapi ini penting, lambat laun kalau dibiarkan terus seperti itu, dan sekarang setelah aku amati dia lebih sering main daripada baca-baca buku cerita kaya waktu itu, aku kawatir nanti lama-lama dia terbawadan kebiasaan baiknya mulai pergi lo”
“Iya kah seperti itu? Memang benar si dia sekarang sering bawa pulang mainan temen-temennya katanya disuruh nyimpen dirumah Unais padahal dia nggak memninta izin buat pinjem, alasannya sih kalau di rumah Unais nggak gampang rusak. “
“terus kalau dirumah dia gunain mainan itu apa nggak?”
“Kadang-kadang temen-temennya main kan, nah baru digunain tu mainan, tapi memang jarang dia main sendiri, cuman beberapa waktu saja dalam seminggu”
“kalau masalah main gitu kamu pernah nakut-nakutin atau bikin dia nggak mau main kalau dirumah karena takut dan hanya berani diluar atau gimana Sep”
Obrolan ngalorngidul itu harus dihentikan sejenak karena adzan dzuhur telah berkumandang, dan suasana sekolah pun mulai sepi dan mulai meramaikan masjid tepat didepan sekolah untuk sholat berjamaah.
Sebenarnya masih banyak lagi yang belum dituntaskan dari pembicaraan itu, mengenai Unais yang tidak pernah diajarkan takut sama manusia dan hanya takut kepada Alloh sampai  Unais yang sudah ditanamkan untuk waspada berbuat keburukan karena ada Alloh yang mengawasinya.
Semakin tinggi rasa penasaran guru Unais tersebut terhadap Unais dan segala tingkahnya, hari ke hari Ibu Sintia tidak pernah meluputkan pandangannya kepada Unais yang membuatnya berdecak kagum anak seusia itu?
Tersisa kata-kata Ibu Sintia yang menjadi PR untuk Septi sehingga ia sedikit meningkatkan kewaspadaan dengan berbagai cara mulai dari membicarakannya di forum pribadinya dengan suami menjelang tidur sampai ia benar-benar mengamati sendiri gerak gerik Unais tanpa sepengetahuan Unais maupun Abinya.
Sore itu kekawatiran Septi memuncak, tak hentinya ia memandangi jam dinding yang ada didapurnya. Tepat 17:20 dan Unais belum pulang, doa harap cemas semuanya bersahut-sahutan.
Dilihatnya dair pintu depan hingga ke teras dan merembet ke jalan depan, tatapannya kosong, Unais belum juga terlihat sosoknya, setelah memastikan kompornya dalam keadaan mati ia bergegas meminta izin kepada Miftah dan melanjutkan niatknya menjemput Unais di tempat bermainnya
Satu demi satu rumah teman-teman Unais dijajaki, namun sama saja tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Septi, sosok yang sangat sabar, dan tidak pernah melayangkan tangannya pada fisik Unais tidak bisa lagi membendung kekawatirannya dan ketakutannya akan pertanggungjawaban yang diminta Allloh terhadap amanahNya, butiran bening kasih sayang turut hadir melengkapi perasaannya, teringat kata-kata Sintia tempo lalu, ada banyak tanya dalam benaknya. Apakah dia lengah dengan penjagaannya pada buah hatinya, apakah Unais sudah berubah dan terbawa pengaruh teman-temannya yang beragam input didikan, kurang kasih sayang, kurang teladan orang tua dan praduga-praduga yang lainnya, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa kali ini harus terakhir Unais berbuat seperti itu.
suara tertawa dan teriakan-teriakan kecil terdengan dari pojok kiri tepat dimana dia berdiri menghadap persawahan.
Terdengar suara teriakan dari seorang ibu yang mungkin masih kepala 2 kalau diamati dari suaranya.
“hei, kalian tidak lihat sekarang jam berapa?, sudah mau maghrib ini, kalian masih mainan saja disini, Dino! Ayo pulang!,
Besar harapan Septi bahwa anaknya juga berada disana, segera ia berlari menghampiri sekelompok bermain anak-anak itu
“alhamdulillah,” kata pertama yang diucapkan Septi
Septi yang sudah membiasakan dirinya dengan kesabaran dan kata-kata yang lembut tidak bisa mengeluarkan amarah dan wujud kekecewaan terhadap anaknya. Segera dipeluknya Unais dan pecahlah tangisannya disitu, disungai yang sebenarnya bukan tempat yang pas buat anak-anak, karena sedikit dalam.
“nak, Unais seneng ya main disini?” pertanyaan Septi yang tidak disangka Unais
“iya Umi, Unais seneng main sama temen-temen disini,”
“Unais juga seneng kalau liat Umi nangis? Unais seneng liat Umi kawatir? Unais seneng kalau liat nanti Umi ditanya sama Alloh, kenapa Unais nggak sholat ashar?” pertenyaan-pertanyaan memelas yang membuat Unais bertanya-tanya sendiri.
Sambil Septi memakaikan baju Unais dan mengusap air matanya, Unais merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya, dia berkata pelan pada buah hatinya “Unais tadi liat mamanya Dino marah-marah nggak?, Unais sama temen-temen yang lain takut nggak?” Septi mengajukan pertanyaan sambil memandang lembut Unais dan teman-temannya yang lain. “takut Umi” jawab serempak Unais dan teman-temannya.
“Unais mau Umi seperti itu?.” Pertanyaan pamungkas Septi pada anaknya. “nggak Umi, jangan Umi, Unais takut, jangan Umi, Unais takut, Umi nggak boleh marah sama Unais, Umi.......” tiba-tiba kata-kata itu terhenti dan badan Unais lemas dan ambruk dipelukan Uminya.
Kepanikan Ibu dan teman-teman Unais nampak terlihat, mereka kebingungan dan berusaha mencari pertolongan.
Septi berusaha membopong anaknya dan meminta bantuan kepada orang-orang sekitar, Pak Rudi yang kebetulan sedang bersiaga ke rumah Alloh berpapasan dengan Septi dan langsung mengambil alih membopong Unais, “dibawa ke bidan Rina saja ya de”, kata Pak Rudi menawarkan. “iya bapak, sebaiknya demikian, sementara saya meminta anak-anak buat memberitahu suami saya”. Setelah sampai di rumah Bidan Rina yang emmang tidak jauh dari tempat itu, Miftah yang sedang menunaikan sholat maghrib pada rakaat ke 3, mendengar samar-samar suara anak-anak yang memanggil namanya. Ia memberi isyarat bahwasanya ia sedang sholat, dan untungnya mereka mengerti apa yang diisyaratkan dan menunggu sejenak. Betapa kagetnya Miftah mendengar informasi tentang anaknya dari Ali, teman unais yang menjadi juru bicara.
Sambil berjalan menuju rumah Bidan Rina yang memang tidak jauh dari rumah Septi dan Miftah, teman-teman Unais sedikit di introgasi oleh Miftah.
“tadi Umi marahin Unais ya?” tanya Miftah pada Ali dan teman-temannya.
“nggak kok bi,” jawab Alif, teman-teman Unais semuanya memanggil orang tua Unais sama seperti unais memanggil mereka.
“malah Umi dateng-dateng nangis, katanya kawatir” tambah Ali
“kata Umi, Umi takut nanti Alloh marah sama Umi” Alif menambahkan lagi
“tadi Umi kan nanya Unais apa pengen Uminya marah-marah sama Unais kaya Ibunya Dino, terus Unais jawab nggak mau, terus Unais tidur”. Jelas Ali lagi, jawaban mereka tidak sedikitpun membuat Miftah berprasangka buruk terhadap Septi.
“sayang, Unais sudah sadar belum?” tanya Miftah kawatir, sambil mengusap air mata septi yang kembali menitik.
“Belum bi, Umi kawatir bi, Abi maafin Umi,
“Abi udah tau yang terjadi mi, udah Umi yang tenang ya,” Miftah mencoba menenangkan, ia menggeser kursi yang ada di deket ranjang samping.
“Pak, bu, boleh saya bicara sebentar” seorang bidan menghampiri suami istri itu, mereka bergegas memasuki ruangan khusus bu bidan.
“ibu, apa yang terjadi pada anak ibu sebelum kesini?, Bidan Rina ingin mengetahui aktivitas Unais sebelum dibawa ke tempatnya dan Septi menjelaskan kejadian yang dialami anaknya sepengetahuannya.                                                                                                                                  
“tetapi sepertinya ada benturan bu dikepalanya.” Bidan tersebut mencoba memaparkan hasil diagnosisnya.
“sebentar ya bu saya tanyakan dulu ke teman-teman Unais yang diluar”.
“mungkin tadi pas sebelum ke sungai Umi, Unais jatuh dari sepeda dan kepalanya kejatuhan sepeda tepat dikepalanya. Betapa terkejutnya Septi setelah mendengar penjelasan Ali.
“sepeda siapa yang dinaiki sama Unais nak?,”
“Eh iya, Umi,” Ali mulai teringat
“tadi tu kan Alif ngajakin Unais sama Ali main ke sungai jam 3, terus Unais menoleh jam tangan Ali terus bilang dia nggak mau maen sebelum sholat,”
Ali terus mengingat apa yang mereka bertiga alami, “terus kan rumah Alif deket sama sungai, jadi kita ke rumah Alif dulu buat sholat tapi kita lewat jalan yang jelek mi, nah pas beres sholat mau ke sungai dijalannya jatuh, Unais boncengan sama Ali tadi, tapi Ali nggakpapa, terus Unais juga nggak bilang sakit, jadi ali nggak tahu kalau kepalanya sakit”.
“jadi Unais udah sholat nak?” jawab Septi lega
“udah Umi.”                     
tunggu untaian selanjutnya... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar