Tumpukan kain bahan berserakan
disana sini, tidak biasanya ruangan kecil itu terasa sesak dan meski banyak
fentilasi udara yang bisa membuat udara bersih masuk dan mengganti karbon-karbon
dioksida,
“Umi lagi sibuk banget ya?” suara
lirih terdengar samar beradu dengan suara mesin yang membuat Septi menghentikan
goesan mesin jahitnya.
“eh Abi... udah pulang bi?, ini
tadi Ibu Imas menyuruh Umi menggarap kainnya yang akan dipakai besok bi”
tanggap Septi beranjak meninggalkan aktivitasnya dan meraih tangan suaminya
seperti yang biasa ia lakukan.
“Umi, Abi hari ini ditugasknan
mengikuti workshop pendidikan dari Sekolah, yang diutus ada dua orang, Abi dan
Bu Sely”. Suami Septi atau yang biasa disapa Miftah menjelaskan maksud kepulangannya
sekalian izin.
“kok dadakan bi, memangnya
informasi workshopnya kapan sampainya?” Septi sedikit keberatan, karena rencana
dia buat memasak masakan kesukaan Miftah akan ditunda.
Mereka berjalan menuju ruang tengah
yang telah sebelumnya dirapihkan dan disiapkan sedikit cemilan ringan untuk
sekeluarga
“iya Umi, tadinya Pak Jo dan Bu
Sely yang akan berangkat karena Abi harus mengurus administrasi siswa baru,
akan tetapi Pak Jo mendadak sakit dan harus digantikan dengan Abi, sedangkan
kerjaan Abi akan dikerjakan sama pihak TU.” Sambil meraih toples keripik
singkong, Miftah memberikan penjelasan dengan ramah kepada istrinya”
“Abi mau naik umum atau bawa
kendaraan sendiri?, terus ibu Sely kesananya bagimana?” nada kekawatiran muncul
ditengah-tengah pembicaraan mereka.
“Umi jangan kawatir, ada Bu Lela
juga kok, beliau mau ikut nebeng sampai rumah saudaranya yang disebelah tempat
workshop, terus pulangnya juga mau bareng”. Miftah sangat paham maksud
pertanyaan istrinya, sehingga ia segera mencoba menenangkannya.
Kekawatiran Septi sedikit padam,
rencana masak-masaknya mungkin akan ditunda untuk sementara, meski sebenarnya
ia sudah tidak sabar ingin makan bersama sekeluarga besar sebagai rasa syukur
atas rizki lebih yang diterimanya kemarin lusa.
“Abi
berangkatnya sekarang?, Abi nggak akan makan dirumah? Rencananya, Umi mau masak
bandeng asap, tapi nggak apa-apa mungkin bisa dibesokin lagi ikannya, yasudah
Abi berangkatnya hati-hati ya, nanti kalau sudah sampe segera kabari Umi.”
Septi mencoba menyembunyikan sedikit kekecewaannya dan tetap memberikan
kesempatan Abi makan cemilannya dengan lahap.
Iya mi, Abi mau
wudhu dulu terus berangkat, Abi minta maaf ya mi, nanti sampaikan ke anak-anak
kalau Abi belum nyampe rumah jam 19:00, sambil menoleh jam dinding Miftah
berharap agar semua keluarganya memahami tugasnya.
Miftah beranjak
dari ruang tengah menuju ke belakang untuk berwudhu, sementara Septi menyiapkan
baju untuk suaminya kenakan saat mengikuti workshop, ditatanya dengan rapih
tepat dipojok ranjang sehingga suaminya akan dengan mudah mengambilnya dan
mengerti maksudnya. Ia kemudian membungkuskan nasi dan lauk secukupnya disebuah
tupperware yang biasa digunakan suaminya, bahkan tak tertinggal juga diraihnya
botol aqua bersegel dari kulkas. Dikemasnya semua kebutuhan suaminya itu dalam
tas yang biasa dibawa oleh suaminya.
“Umi sedang apa?
Menyiapkan keperluan Abi ya, nanti.......” kata-kata suaminya tidak berlanjut.
Disusul lagi dengan kalimat yang lainnya. “makasih ya Umi, Abi mau siap-siap
dulu” terang Miftah sambil melaju kekamar mereka, sedangkan Septi masih sibuk
mempersiapkan kebutuhan suaminya dan menyiapkannya di meja depan.
Dan benar saja,
Miftah segera mengganti bajunya dengan yang sudah disiapkan oleh istrinya dan
menggantung baju yang telah dipakainya dilemari.
Wajah itu
semakin lama semakin kelihatan lelahnya, namun hati itu semakin lama semakin
terlihat cantiknya, semakin cantik semakin menyejukkan. Beberapa kalimat yang
menghiasi kepalanya saat itu.
Kecupan sayang
dan hormat mengantarkan Miftah pada perjalannnya menuju tempat wokshop, dua wanita,
usia sebaya dengan Mifta dan satunya lagi, bu Lela yang hampir mendekati kepala
empat. Menjadi teman berdiskusi bagi Mifta tentang keadaan sekolah yang menjadi
tempat mereka berbagi manfaat dan menjemput rejeki.
Septi bergegas
melanjutkan aktivitas menjahitnya diruangan yang sedikit sumpek tadi, ia mulai
memunguti bahan-bahan yang sudah tidak akan digunakan lagi dalam sebuah tas
rajut ukuran besar karya tangannya, kali ini ia mencoba merapihkan kembali
ruangan itu sebelum menggoes lagi pedal mesin jahitnya, meskipun sudah ada
mesin portable namun Septi tidak mau begitu saja meninggalkan mesin tuanya,
yang dirasanya masih sangat berfungsi dengan baik.
Dari balik
jendela kaca yang ada didepannya, ia melihat sesosok ibu yang seusia dengannya,
suara tangisan anak berusia 10 tahun, beradu dengan suaranya yang sedikit
nyaring.
Sesosok tangisan
terlintas dalam benaknya, kali ini bukan tangisan anak kecil namun tangisan
seorang ibu yang ketakutan.
Menjadi sosok
seorang ibu bukanlah suatu hal yang mudah, suatu hal yang biasa namun tidak
bisa disepelekan perannya.
Usia pernikahan yang
telah menginjak lima tahun telah memberikan Septi banyak kesempatan untuk ia
mengamalkan ilmu-ilmu yang diperolehnya, baik ilmu yang diperoleh dari bangku
sekolah hingga perkuliahan ataupun dari pesantren singkat yang ia lalui selama
kurang lebih 1 tahun.
Suara anak kecil
yang merengek-rengek itu tidak mudah untuk ditaklukkan hanya dengan kemarahan.
Karena dampaknya bukan pada jera melainkan reda sesaat.
“dede, dede kan
udah punya yang mainan kayak gitu, masak pengen beli lagi, nanti sayang yang
kemarin, kan masih bisa dipake, nanti mainannya yang kemarin marah lo sama
dede, Alloh kan juga ngga suka kalau dedenya banyak mainnya, nanti nggak bisa
ngaji.”
Suara tangisan
Unais, anak septi yang baru berusia 4 tahun itu sedikit menunjukan respon paham
terhadap yang dijelaskan Uminya. “Umi pengen lo kasih dede mainan itu, tapi Umi
lebih nggak pengen kalau dede Unais nanti nggak disayang sama Alloh, eh
iiiyaaa.. liat juga nih Alloh sayang kan sama Unais, Umi nggak diingetin bawa
dompet sayang, artinya Unais nggak diizinin beli mainan sama Alloh” sambil
menunjukan tasnya yang kosong, Septi mencoba memberi pengertian yang lebih
mendalam kepada anaknya. Ketauhidan yang dimiliki Septi dan terus dipupuk
olehnya, sedikit demi sedikit mulai ditanamkan olehnya sedari Unais kecil,
bahkan dari bayi dengan berbagai cara yang disesuaikan dengan perkembangan
Unais yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Akhirnya
keduanya pulang dan mengakhiri percakapan itu dengan ia berterimakasih kepada
anaknya yang sudah pandai memahami maksudnya.
“Abi, dede
semakin hari semakin pinter, dia mulai paham dengan tauhid yang Umi tanamkan
melalui kata-kata ketika dia merengek-rengek meminta mainan, masyaaAlloh bi,
Umi terharu tadi Umi bersyukur kepada Alloh yang telah memudahkan pemahaman
Unais untuk menerima kebaikan”. Septi membuka obrolan sebelum mereka memejamkan
mata mengakhiri hari itu.
“masyaaAlloh,
benarkah itu Umi, alhamdulillah, semoga nanti ia tumbuh menjadi pribadi yang
bertauhid dan beryakinan yang kokoh kepada Alloh ya umi, terimakasih sudah
mendidik anak kita dengan kesabaranmu dan keikhlasanmu yang lillah mi”.
Miftah semakin
bangga dan semakin kagum pada istrinya, Miftah memang melihat anaknya tumbuh
berbeda dari anak-anak yang lainnya disaat lingkungan mereka belum mengenal
Alloh lebih dalam, karena mereka hanya menjadikan agama sebagai ritual
sebagaimana kebanyakan orang, namun tidak sedikit juga yang mulai tersentuh
tauhid dan banyak bertanya kepada keduanya setelah melihat dan bercermin dari
rumah tangga Septi dan Miftah yang sangat damai dan penuh kasih sayang.
“Umi hanya
melaksanakan apa yang Alloh perintahkan bi, Alloh menitipkan Unais untuk kita
didik agar mengenalNya, Abi juga suami yang hebat yang terus mendukung Umi, dan
menasehati Umi agar selalu sabar
menghadapi mereka, bahkan selalu memberi penawar ketika Umi mulai terlihat
letih dengan aktivitas, juga sering mijitin Umi, kalau Umi kecapean ngejahit”.
Septi dengan nada manjanya membalas pujian suaminya. Meskipun kehidupan rumah
tangga mereka sudah tidak bisa dikatakan baru, namun suasana rumah itu selalu
diliputi kasih sayang dan cinta kepada Alloh SWT yang membuat rumah tangga
mereka terasa baru terus.
Alarm murottal
al-quran yang diseting di Handphone Miftah membangunkan Septi dan segera duduk
dan menengadahkan tangan memanjatkan do’a, kemudian seperti biasa ia
membangunkan suaminya. Terkadang Miftah memang sengaja pura-pura masih merem
karena menunggu dibangunkan padahal sebenarnya sudah bangun dan kadang sudah
sholat malam lebih dulu. Lain halnya dengan Septi, dia belum bangun jika alarm
belum berbunyi atau belum dibangunkan, yaitu sekitar pukul 03:00.
“haiyya
‘alashholaah, lalu Septi membacakan ayat 191-194 dari surah Al-Imran” Miftahpun
membuka kedua matanya, mendengarkan bacaan istrinya, dan selalu mengucapkan
terimakasih pada istrinya, kemudian keduanya beranjak ke kamar mandi dan
berwudhu.”
“Abi, Umi boleh
berpuasa sunah nggak hari ini?” Septi dengan lembut meminta izin pada suaminya.
Kalau boleh Umi mau masak nasi dulu buat sahur, karena Umi lupa belum masak
nasi semalem.
“boleh mi, Abi
juga mau berpuasa hari ini” jawaban singkat dari Miftah sebelum ia memasuki
kamar mandi.
“Abi, Abi masak
nasi semalem? Kok udah ada nasinya ya.”
Sambil
menongolkan kepalanya dari kamar mandi, Miftah memberi sedikit peringatan,
“Umi, dedenya masih tidur, jangan keras-keras ya, nanti Umi yang repot” kembali
Miftah
“euu. Maaf bi,
abisnya Umi seneng, alhamdulillah”
“iya Abi sengaja
masak biar Umi bisa langsung sholat.”
“Abi semalem mau
makan ya terus nggak ada nasi, pasti tidurnya sambil nahan laper ya bi, maafin
Umi ya bi, Umi kelupaan” nada bersalah keluar dari mulut Septi
“Abi semalem
udah niat mau puasa mi, jadi Abi ngecek dulu ada nasinya buat sahur” Miftah
mencoba mengusir rasa bersalah istrinya. Abi sudah selesai wudhunya, Umi buruan
gih Abi tunggu di mushola”. berlalulah hari-hari yang selalu indah karena-Nya
dan akan terus indah karena-Nya.
“Abi, Unais tadi
maen sama teman-temannya pulang sore jam 17:30, jadi sholatnya telat”. Obrolan
malam kembali dibuka oleh Septi mengadukan anak pertamanya.
“terus gmana mi, Umi nasehatin Unais nggak tadi? Umi nggak marah kan sama dia?” tanya Miftah penasaran apa yang terjadi
“nggak bi, Umi
Cuma nasehatin aja tadi, Umi belum sampai hati kesana,”
“kasih dia kesempatan
buat berpikir Umi, sampai tiga kali kalau Unais terus begitu Umi boleh marah
dan memukul dia, tapi inget batasannya ya mi, besok Abi coba ngobrol sama dia,
sekarang Umi tidur dulu ya, udah larut lo”
“Abi Umi masih
bisa sabar kalau Unais bandel karena hal lain, bi...” obrolan kali ini terputus
karena ternyata Miftah telah mendahului memejamkan matanya dan beristirahat
dari segala aktivitasnya. “mungkin Abi kecapean seharian disekolah” Septi
memandangi suaminya yang senantiasa mendampinginya hingga hari itu dan tidak
pernah lupa untuk mendoakan suaminya sebelum akhirnya memejamkan mata.
“Unais, sini de,
Unais tadi dari mana?,” Miftah memegang tangan anaknya setelah selesai
melaksanakan sholat”
“Unais dari
tempat Dino bi, tadi Unais pas pulang ketemu sama Ali terus diajak main dulu
kerumahnya”. Unais menerangkan alasannya.
“Unais tau kan
amalan apa yang paling baik dari keseharian kita? Coba sebutin ke Abi,”
“Sholat pada
waktunya bi,”
“nah, Unais hari
ini sholat asar jam berapa, biasanya unais sholatnya jam berapa?”
“jam setengah 6
bi, biasanya jam 3 atau set 4 bi, maaf ya bi,”
“lhoo kok minta
maafny ake Abi?”
“karena Unais
nggak mengikuti perintah Alloh,”
“nggak ngikutin
perintah Alloh berarti minta maafnya harus ke siapa?”
“ke Alloh bi,
tapi tadi Unais udah minta maaf kok bi ke Alloh, Unais mau berjanji nggak
ngulangin lagi”
“anak pinter,
nah kalau sudah janji gitu berarti nggak boleh diula...” Mifta menghentikan
kalimatnya.. “ngiii” kalimat Miftah dilengkapi oleh Unais.
“Abi boleh nanya
lagi sayang, boleh bi, tadi pas dari rumah Dino jam berapa ya?”
“jam 3 bi, Unais
tadi mau pulang dulu mau sholat tapi dicegat sama Ali bi, terus pas main
lupa”
“Dino dholat
nggak de?, Unais nanya nggak kalau dirumahnya ada mushola apa nggak?”
“Adalah bi, kan
dino sama kaya kita, Islam ya bi namanya,
tapi Unais nggak pernah melihat temen-temen Unais sholat bi”
“ooh ada mushola
jug aya kayak tempat kita ya de, jadi nanti kalau udah jam tiga, Unais izin ke
air, wudhu terus numpang sholat disana ya nak, biar pas pulang udah sholat.”
Unais sedikit
biongung menjelaskan kepada Abinya, bagi anak seusia itu, mungkin karena dia
tidak pernah melihat orangtua Dino maupun Dino, temanya itu sholat sehingga dia
merasa takut kalau sendiri, atau masih banyak alasan lagi yang membuatnya lebih
nyamaan dan tenang jika melakukan sholat dirumahnya sendiri, meskipun bisa
dibilang gerakan-gerakan sholat anak seusia Unais masih belum sempurna.
Terdengarlah
suara adzan maghrib yang mengakhiri percakapan antara keduanya, sore itu Miftah
sengaja meluangkan waktu untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh
anaknya yang membuat perilakunya sedikit berubah.
“Abi, makasih ya
Abi, Unais sekarang sudah mulai kembali ke kebiasaan baiknya, sholat tepat
waktu, karena pulang mainnya tidak terlalu sore dan terkadang pas Umi tanya,
katanya sudah sholat dirumah temannya, Rio, awalnya Umi ragu, tapi kemudian Umi
tanyakan ke orang tua Rio katanya memang benar, malah Rio kadang mengikuti
dibelakangnya.
“Alhamdulillah
mi, kalau seperti itu, sekarang Abi udah tenang, semoga Alloh senantiasa
menjaganya dari amalan sholatnya ya mi”. Kekawatiran sepasang suami istri itu
kini mulai kandas, melahirkan kembali kepercayaan terhadap anaknya, dan semakin
menambah keyakinan mereka akan pertolongan Alloh.
Tahun ke 4 Unais
berada disekolah dasarnya, Unais telah tumbuh besar menjadi anak yang patuh dan
rajin. Namun karena lingkungan temna-temannya yang umumnya anak sekarang dengan
berbagai tingkah bandelnya dan mulai mencari banyak perhatian dari guru maupun
teman-temannya. Diantara yang lainnya Unais masih bisa dikatakan anak yang
unggul daripada yang lainnya.
“Unais, besok
Umi/Abi Unais bisa datang ke sekolah tidak? Ibu kangen sama Umi kamu sayang,
pengen ngobrol-ngobrol lagi, nanti sampaikan ya ke Umi Unais.” Seorang guru
Unasi yang separuh baya menghampiri Unais dengan sengaja dan berharap Unais
melakukan apa yang dimintanya.
“iya bu, tapi
saya nggak nakal kan bu?” nanti Umi sedih kalau Umi dipanggil karena saya
nakal”. Dengan polosnya Unais merespon permintaan gurunya
“Unais nggak
usah kawatir ya, kan Umi sama Ibu berteman, jadi Ibu cuma pengen ngobrol aja
sama Umi kamu, Unasi nggak nakal kok, malah Ibu mau ngasih tau ke Umi kalau
Unais baik-baik saja disini.
“iya bu, Ibu
saya main lagi ya”. Unais berpamitan dan beranjak menuju teman-temannya lagi
“Septi, aku
kagum sama kamu, anak kamu begitu patuh, sopan dan rajin, bahkan ia selalu
menasehati teman-temannya agar takut sama Alloh, bagaimana bisa kamu
mengajarkan kepada anak seusia Unais hal-hal yang belum tentu dimengeri oleh
orang dewasa?”. Ungkapan rasa kagum yang melegakan Septi yang sempat berpikir
anaknya mendapat masalah di sekolahnya.
“astaghfirulloh,
Sin, aku udah jantungan lo, dikira ada apa-apa sama anak aku, masyaaAlloh, aku
juga sedikit heran dan bersyukur Sin, eh Ibu ya. Hehe.. bersyukur karena Alloh
menjawab doa dan kepasrahanku Sin, aku hanya bisa berusaha dan berdoa, tapi
yang lebih aku prioritaskan adalah doa, akumemohon agar Unais dididik langsung
sama Alloh, karena aku tidak berkuasa apa-apa, aku tidak bisa apa-apa, yang
sebenarnya mendidik bukanlah kita, tapi Alloh yang memberikan banyak kemudahan
berpikir, kemudahan pemahaman, baik terkait agama maupun umum, berdoa agar
disetiap usaha ku selalu ada pertolongan Alloh yang menggerakkan.” jawab Septi
diselingi gaya bercandanya, jawaban yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya
oleh Sintia
“masyaaAlloh,
Sep, nggak nyangka kamu beneran sesholihah ini,” kekaguman Sintia yang sedikit
membuat geli Septi
“eh eh eh,
jangan sembarang memuji lo, nanti bisa-bisa aku semburin pasir lo, kaya hadits
yang waktu itu tu, hehe” obrolan itu sedikit mencair
“oh jadi gitu ya
cara mendidik anak te, serahkan ke Alloh ya, biar Alloh yang mendidik amanahNya
itu dan menggerakkan usaha kita kesana”.
Dan tiba-tiba
guru Unais tersebut mencetus sebelum sempat Septi menjawabnya
“tapi Sep, kamu
perlu waspada juga, kan pasrah bukan berarti tidak memperhatikan kemungkinan
terburuk kan?
“maksudnya
gimana Sin” tukas Septi sedikit penasaran akan sarat maknanya
“gini nih, kalau
aku perhatikan, Unais itu mainnya sama anak-anak yang lumayan bandel dan suka
susah kalau disuruh sholat karena memang dirumah juga tidak dibimbing sholat
sama kesdua orang tuanya. Maksud aku meskipun dia susah terpengaruhnya tapi ini
penting, lambat laun kalau dibiarkan terus seperti itu, dan sekarang setelah
aku amati dia lebih sering main daripada baca-baca buku cerita kaya waktu itu,
aku kawatir nanti lama-lama dia terbawadan kebiasaan baiknya mulai pergi lo”
“Iya kah seperti
itu? Memang benar si dia sekarang sering bawa pulang mainan temen-temennya
katanya disuruh nyimpen dirumah Unais padahal dia nggak memninta izin buat
pinjem, alasannya sih kalau di rumah Unais nggak gampang rusak. “
“terus kalau
dirumah dia gunain mainan itu apa nggak?”
“Kadang-kadang
temen-temennya main kan, nah baru digunain tu mainan, tapi memang jarang dia
main sendiri, cuman beberapa waktu saja dalam seminggu”
“kalau masalah
main gitu kamu pernah nakut-nakutin atau bikin dia nggak mau main kalau dirumah
karena takut dan hanya berani diluar atau gimana Sep”
Obrolan
ngalorngidul itu harus dihentikan sejenak karena adzan dzuhur telah
berkumandang, dan suasana sekolah pun mulai sepi dan mulai meramaikan masjid
tepat didepan sekolah untuk sholat berjamaah.
Sebenarnya masih
banyak lagi yang belum dituntaskan dari pembicaraan itu, mengenai Unais yang
tidak pernah diajarkan takut sama manusia dan hanya takut kepada Alloh
sampai Unais yang sudah ditanamkan untuk
waspada berbuat keburukan karena ada Alloh yang mengawasinya.
Semakin tinggi
rasa penasaran guru Unais tersebut terhadap Unais dan segala tingkahnya, hari
ke hari Ibu Sintia tidak pernah meluputkan pandangannya kepada Unais yang
membuatnya berdecak kagum anak seusia itu?
Tersisa
kata-kata Ibu Sintia yang menjadi PR untuk Septi sehingga ia sedikit meningkatkan
kewaspadaan dengan berbagai cara mulai dari membicarakannya di forum pribadinya
dengan suami menjelang tidur sampai ia benar-benar mengamati sendiri gerak
gerik Unais tanpa sepengetahuan Unais maupun Abinya.
Sore itu
kekawatiran Septi memuncak, tak hentinya ia memandangi jam dinding yang ada
didapurnya. Tepat 17:20 dan Unais belum pulang, doa harap cemas semuanya
bersahut-sahutan.
Dilihatnya dair
pintu depan hingga ke teras dan merembet ke jalan depan, tatapannya kosong,
Unais belum juga terlihat sosoknya, setelah memastikan kompornya dalam keadaan
mati ia bergegas meminta izin kepada Miftah dan melanjutkan niatknya menjemput
Unais di tempat bermainnya
Satu demi satu
rumah teman-teman Unais dijajaki, namun sama saja tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
Septi, sosok yang sangat sabar, dan tidak pernah melayangkan tangannya pada
fisik Unais tidak bisa lagi membendung kekawatirannya dan ketakutannya akan
pertanggungjawaban yang diminta Allloh terhadap amanahNya, butiran bening kasih
sayang turut hadir melengkapi perasaannya, teringat kata-kata Sintia tempo
lalu, ada banyak tanya dalam benaknya. Apakah dia lengah dengan penjagaannya
pada buah hatinya, apakah Unais sudah berubah dan terbawa pengaruh
teman-temannya yang beragam input didikan, kurang kasih sayang, kurang teladan
orang tua dan praduga-praduga yang lainnya, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa
kali ini harus terakhir Unais berbuat seperti itu.
suara tertawa
dan teriakan-teriakan kecil terdengan dari pojok kiri tepat dimana dia berdiri
menghadap persawahan.
Terdengar suara
teriakan dari seorang ibu yang mungkin masih kepala 2 kalau diamati dari
suaranya.
“hei, kalian
tidak lihat sekarang jam berapa?, sudah mau maghrib ini, kalian masih mainan
saja disini, Dino! Ayo pulang!,
Besar harapan
Septi bahwa anaknya juga berada disana, segera ia berlari menghampiri
sekelompok bermain anak-anak itu
“alhamdulillah,”
kata pertama yang diucapkan Septi
Septi yang sudah
membiasakan dirinya dengan kesabaran dan kata-kata yang lembut tidak bisa
mengeluarkan amarah dan wujud kekecewaan terhadap anaknya. Segera dipeluknya
Unais dan pecahlah tangisannya disitu, disungai yang sebenarnya bukan tempat
yang pas buat anak-anak, karena sedikit dalam.
“nak, Unais
seneng ya main disini?” pertanyaan Septi yang tidak disangka Unais
“iya Umi, Unais
seneng main sama temen-temen disini,”
“Unais juga
seneng kalau liat Umi nangis? Unais seneng liat Umi kawatir? Unais seneng kalau
liat nanti Umi ditanya sama Alloh, kenapa Unais nggak sholat ashar?”
pertenyaan-pertanyaan memelas yang membuat Unais bertanya-tanya sendiri.
Sambil Septi
memakaikan baju Unais dan mengusap air matanya, Unais merasa menyesal dengan
apa yang telah dilakukannya, dia berkata pelan pada buah hatinya “Unais tadi
liat mamanya Dino marah-marah nggak?, Unais sama temen-temen yang lain takut
nggak?” Septi mengajukan pertanyaan sambil memandang lembut Unais dan
teman-temannya yang lain. “takut Umi” jawab serempak Unais dan teman-temannya.
“Unais mau Umi
seperti itu?.” Pertanyaan pamungkas Septi pada anaknya. “nggak Umi, jangan Umi,
Unais takut, jangan Umi, Unais takut, Umi nggak boleh marah sama Unais,
Umi.......” tiba-tiba kata-kata itu terhenti dan badan Unais lemas dan ambruk
dipelukan Uminya.
Kepanikan Ibu
dan teman-teman Unais nampak terlihat, mereka kebingungan dan berusaha mencari
pertolongan.
Septi berusaha
membopong anaknya dan meminta bantuan kepada orang-orang sekitar, Pak Rudi yang
kebetulan sedang bersiaga ke rumah Alloh berpapasan dengan Septi dan langsung
mengambil alih membopong Unais, “dibawa ke bidan Rina saja ya de”, kata Pak
Rudi menawarkan. “iya bapak, sebaiknya demikian, sementara saya meminta
anak-anak buat memberitahu suami saya”. Setelah sampai di rumah Bidan Rina yang
emmang tidak jauh dari tempat itu, Miftah yang sedang menunaikan sholat maghrib
pada rakaat ke 3, mendengar samar-samar suara anak-anak yang memanggil namanya.
Ia memberi isyarat bahwasanya ia sedang sholat, dan untungnya mereka mengerti
apa yang diisyaratkan dan menunggu sejenak. Betapa kagetnya Miftah mendengar
informasi tentang anaknya dari Ali, teman unais yang menjadi juru bicara.
Sambil berjalan
menuju rumah Bidan Rina yang memang tidak jauh dari rumah Septi dan Miftah,
teman-teman Unais sedikit di introgasi oleh Miftah.
“tadi Umi
marahin Unais ya?” tanya Miftah pada Ali dan teman-temannya.
“nggak kok bi,”
jawab Alif, teman-teman Unais semuanya memanggil orang tua Unais sama seperti
unais memanggil mereka.
“malah Umi
dateng-dateng nangis, katanya kawatir” tambah Ali
“kata Umi, Umi
takut nanti Alloh marah sama Umi” Alif menambahkan lagi
“tadi Umi kan
nanya Unais apa pengen Uminya marah-marah sama Unais kaya Ibunya Dino, terus
Unais jawab nggak mau, terus Unais tidur”. Jelas Ali lagi, jawaban mereka tidak
sedikitpun membuat Miftah berprasangka buruk terhadap Septi.
“sayang, Unais
sudah sadar belum?” tanya Miftah kawatir, sambil mengusap air mata septi yang
kembali menitik.
“Belum bi, Umi
kawatir bi, Abi maafin Umi,
“Abi udah tau
yang terjadi mi, udah Umi yang tenang ya,” Miftah mencoba menenangkan, ia
menggeser kursi yang ada di deket ranjang samping.
“Pak, bu, boleh
saya bicara sebentar” seorang bidan menghampiri suami istri itu, mereka bergegas
memasuki ruangan khusus bu bidan.
“ibu, apa yang
terjadi pada anak ibu sebelum kesini?, Bidan Rina ingin mengetahui aktivitas
Unais sebelum dibawa ke tempatnya dan Septi menjelaskan kejadian yang dialami
anaknya sepengetahuannya.
“tetapi sepertinya
ada benturan bu dikepalanya.” Bidan tersebut mencoba memaparkan hasil
diagnosisnya.
“sebentar ya bu
saya tanyakan dulu ke teman-teman Unais yang diluar”.
“mungkin tadi
pas sebelum ke sungai Umi, Unais jatuh dari sepeda dan kepalanya kejatuhan sepeda
tepat dikepalanya. Betapa terkejutnya Septi setelah mendengar penjelasan Ali.
“sepeda siapa
yang dinaiki sama Unais nak?,”
“Eh iya, Umi,”
Ali mulai teringat
“tadi tu kan
Alif ngajakin Unais sama Ali main ke sungai jam 3, terus Unais menoleh jam
tangan Ali terus bilang dia nggak mau maen sebelum sholat,”
Ali terus
mengingat apa yang mereka bertiga alami, “terus kan rumah Alif deket sama
sungai, jadi kita ke rumah Alif dulu buat sholat tapi kita lewat jalan yang
jelek mi, nah pas beres sholat mau ke sungai dijalannya jatuh, Unais boncengan
sama Ali tadi, tapi Ali nggakpapa, terus Unais juga nggak bilang sakit, jadi
ali nggak tahu kalau kepalanya sakit”.
“jadi Unais udah
sholat nak?” jawab Septi lega
“udah Umi.” tunggu untaian selanjutnya... :)